PLN Rancang Strategi Bangun PLTS 100 GW, Ini Saran MKI
Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) angkat bicara terkait sejumlah target percepatan atau quick wins PT PLN (Persero) dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW).
Wakil Ketua Umum I Teknologi Transisi Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Chairani Rachmatullah mengatakan target PLTS 100 GW merupakan arah kebijakan yang positif untuk mempercepat transisi energi, memperkuat ketahanan energi, sekaligus membuka peluang investasi baru. Namun, program tersebut tidak cukup hanya mengejar kapasitas pembangkit yang terpasang.
Menurutnya, pengembangan PLTS harus menjadi pengungkit hilirisasi industri nasional melalui penguatan industri modul surya, inverter, baterai, jasa engineering, procurement and construction (EPC), hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
"Keberhasilan program ini tidak boleh hanya diukur dari berapa gigawatt yang berhasil dipasang. Program ini harus dirancang sebagai pengungkit hilirisasi industri nasional dengan strategi matang agar memberikan nilai manfaat yang konkret bagi masyarakat," katanya kepada Bisnis, Senin (6/7/2026).
Chairani menilai program percepatan atau quick wins tersebut juga perlu terlebih dahulu diakomodasi dalam penyesuaian RUPTL. Menurutnya, jika rencana-rencana tersebut tidak dimasukkan ke dalam dokumen perencanaan, implementasi proyek tidak dapat dijalankan.
Dia
menyarankan pemerintah memprioritaskan pembangunan PLTS di wilayah yang masih
mengalami kekurangan pasokan listrik atau daerah yang masih bergantung pada
pembangkit berbahan bakar minyak.
Selain itu, pengembangan energi surya juga dapat
diarahkan untuk melayani pelanggan atau perusahaan yang bersedia membayar tarif
premium melalui komitmen resmi dengan PLN.
Di sisi lain, kesiapan jaringan listrik dinilai menjadi tantangan terbesar dalam mencapai target tersebut. Menurut Chairani, persoalan utama pada proyek PLTS adalah kemampuan sistem kelistrikan menyerap dan mengelola pasokan listrik yang bersifat intermiten karena bergantung pada kondisi cuaca.
Karena itu, pengembangan PLTS harus dibarengi dengan penguatan jaringan transmisi, penerapan smart grid, serta pembangunan sistem penyimpanan energi seperti battery energy storage system (BESS) maupun pumped storage berdasarkan kajian yang komprehensif.
Diperlukan pula penyesuaian bauran pembangkit dan fleksibilitas pola operasi sistem hybrid agar keandalan jaringan tetap terjaga dengan biaya yang ekonomis.
Meski demikian, Chairani optimistis PLN memiliki kapasitas untuk mengelola integrasi energi surya ke dalam sistem kelistrikan nasional.
"Kami optimistis PLN dengan kapasitas SDM dan pengalamannya mampu menyelaraskan masuknya PLTS ke berbagai sistem jaringan Indonesia yang memiliki tingkat maturitas berbeda-beda," ujarnya.
MKI menilai target rencana quick wins tahap pertama PLN berupa PLTS berkapasitas 27,4 gigawatt-peak (GWp) dan Battery Energy Storage System (BESS %) berkapasitas 82,5 gigawatt-hour (GWh) sudah memadai untuk menopang operasi pembangkit surya.
Menurutnya, kapasitas penyimpanan tersebut menghasilkan durasi sekitar tiga jam yang telah menjadi standar global untuk melakukan load shifting, yakni menyimpan kelebihan produksi listrik pada siang hari untuk digunakan saat beban puncak pada malam hari, sekaligus mengurangi dampak fluktuasi cuaca.
Dengan rata-rata penyinaran matahari efektif di Indonesia selama empat hingga 4,5 jam per hari, kapasitas BESS tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 67% hingga 75% produksi harian PLTS. Sisa energi dapat langsung disalurkan ke jaringan listrik tanpa melalui sistem penyimpanan.
"Perencanaan ini sangat selaras dengan prinsip MKI yang menekankan pentingnya integrasi storage demi menjaga keandalan dan keamanan energi," kata Chairani.
Dia menambahkan bahwa pembangunan BESS perlu didukung strategi penyesuaian bauran pembangkit, penerapan smart grid, serta perencanaan sistem kelistrikan yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan jaringan di setiap wilayah Indonesia agar implementasi berjalan optimal dan tetap ekonomis.
Sebelumnya, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah target quick wins untuk mendukung program PLTS 100 GW yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Dia menjelaskan, tahap awal program tersebut akan dimulai melalui pembangunan PLTS berkapasitas 27,4 GWp yang dipadukan dengan BESS berkapasitas 82,5 GWh.
Menurutnya, salah satu fokus utama quick wins tersebut adalah menjalankan fat burning program atau mengeliminasi penggunaan BBM pada sistem kelistrikan besar.
"Untuk
fat burning program ini, PLN menyiapkan pembangunan PLTS berkapasitas 6,9 GWp
yang didukung BESS sebesar 15,5 GWh," jelas Darmawan dalam Rapat Kerja
dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Source : https://hijau.bisnis.com/read/20260706/652/1985789/pln-rancang-strategi-bangun-plts-100-gw-ini-saran-mki